FGD Visi dan Misi Prodi Ilmu Hadis UIN Suska Rumuskan Arah Baru Berbasis Kearifan Melayu

Pekanbaru – Program Studi Ilmu Hadis UIN Suska Riau menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan visi dan misi pada Rabu, 15 April 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis yang melibatkan berbagai unsur penting, mulai dari dosen, alumni, mahasiswa, hingga stakeholder eksternal.

FGD ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Sukiyat selaku Ketua Program Studi Ilmu Hadis, dengan moderator Dr. Edi Hermanto. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari berbagai peserta, di antaranya Muhammad Faisal, Dr. Mochamad Novendri, Dewi Sartika, Dedi Irawan, Dr. H. Zailani, Dr. Adynata, Tarmizi, serta perwakilan mahasiswa Elmatiana dan Nisa Aldavina.

Dalam forum tersebut, disepakati rumusan visi Program Studi Ilmu Hadis sebagai berikut:
“Menjadi Prodi Unggul di bidang akademik yang integratif, inovatif dan berdaya saing global di bidang Ilmu Hadis untuk mewujudkan masyarakat berkeadaban berbasis kearifan Melayu.”

Dalam pemaparannya, Dr. Sukiyat menekankan bahwa visi ini bukan sekadar pernyataan normatif, tetapi harus diturunkan dalam desain kurikulum, riset, dan pengabdian yang konkret. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian prodi keislaman yang masih terjebak pada dikotomi antara tradisi klasik dan tuntutan modern.

“Integratif dan inovatif itu bukan slogan. Kita harus berani mengembangkan studi hadis yang tidak hanya tekstual, tetapi juga kontekstual dan responsif terhadap realitas sosial, termasuk budaya Melayu sebagai basis epistemik lokal,” ujarnya.

Lebih jauh, ia juga menegaskan pentingnya daya saing global, yang menurutnya hanya bisa dicapai jika prodi mampu memproduksi riset yang relevan dan diakui secara internasional, tanpa kehilangan identitas lokal.

Sementara itu, Dr. H. Zailani menyampaikan harapannya agar FGD ini tidak berhenti pada tataran konseptual. Ia menggarisbawahi adanya tantangan serius dalam implementasi visi, khususnya pada konsistensi akademik dan budaya riset di lingkungan prodi.

“Kita sering kuat di rumusan, tetapi lemah di eksekusi. Harapan saya, hasil FGD ini benar-benar ditindaklanjuti dalam bentuk roadmap yang jelas, termasuk penguatan metodologi studi hadis yang lebih kritis dan adaptif,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan stakeholder eksternal dalam forum ini merupakan langkah positif, namun perlu diiringi dengan mekanisme evaluasi berkelanjutan agar visi yang telah disepakati tidak kehilangan arah dalam praktiknya.

Secara keseluruhan, FGD ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk mereposisi studi Ilmu Hadis tidak hanya sebagai disiplin normatif, tetapi juga sebagai bidang akademik yang hidup, kritis, dan mampu berdialog dengan perubahan zaman. Namun demikian, tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana mentransformasikan visi tersebut menjadi praktik akademik yang konsisten dan terukur. (Bundar)

Leave a Reply